Ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan bersama: apakah perguruan tinggi kita sedang mempersiapkan masa depan, atau justru sedang sibuk mempertahankan kebiasaan masa lalu?

Pertanyaan ini mungkin terdengar provokatif. Namun, di tengah perubahan dunia yang begitu cepat, kita tidak bisa terus merasa nyaman dengan cara-cara lama, sementara tuntutan terhadap kualitas pendidikan, kompetensi lulusan, produktivitas riset, dan daya saing global semakin tinggi.

Perkembangan kecerdasan artifisial, transformasi digital, perubahan kebutuhan industri, serta persaingan ekonomi global telah mengubah lanskap pendidikan tinggi. Dunia tidak lagi hanya membutuhkan lulusan yang menguasai teori, tetapi juga manusia yang mampu berpikir kritis, beradaptasi, berinovasi, dan menciptakan solusi.

Dalam situasi seperti ini, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. FEB bukan sekadar tempat mencetak sarjana ekonomi dan bisnis. FEB harus menjadi ruang lahirnya pemimpin, wirausaha, inovator, peneliti, dan pengambil keputusan yang mampu menjawab tantangan zaman.

Pertanyaannya, sudahkah kita bergerak ke arah itu?

Kongres Bukan Sekadar Seremonial

Kongres I Aliansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Swasta Indonesia (AFEBSI), dengan tema “Penguatan Kolaborasi Nasional AFEBSI Menuju Indonesia Emas 2045 dan Daya Saing Global Berkelanjutan”, harus dimaknai lebih dari sekadar agenda organisasi.

Kongres ini merupakan momentum untuk mengevaluasi perjalanan, menyatukan gagasan, dan menentukan arah masa depan pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis di Indonesia.

Sebab, membangun organisasi bukan hanya soal membentuk kepengurusan, menyelenggarakan seminar, menerbitkan sertifikat, atau memperbanyak agenda pertemuan. Semua itu bisa menjadi bagian dari aktivitas organisasi, tetapi belum tentu menghasilkan perubahan yang berarti.

Organisasi yang kuat harus mampu menjawab pertanyaan sederhana: apa manfaat nyata yang dihasilkan bagi anggotanya, institusi pendidikan, masyarakat, dan bangsa?

AFEBSI perlu membuktikan bahwa keberadaannya bukan sekadar menambah daftar organisasi profesi dan kelembagaan di Indonesia. AFEBSI harus hadir sebagai kekuatan kolektif yang membantu Fakultas Ekonomi dan Bisnis perguruan tinggi swasta meningkatkan mutu, memperluas jejaring, mengembangkan riset, dan membangun daya saing.

Kita tidak membutuhkan organisasi yang hanya ramai dalam kegiatan. Kita membutuhkan organisasi yang nyata dalam kontribusi.

Persaingan Penting, tetapi Kolaborasi Jauh Lebih Strategis

Kita tidak dapat menutup mata bahwa perguruan tinggi hidup dalam lingkungan yang kompetitif. Setiap institusi berupaya meningkatkan akreditasi, memperkuat reputasi akademik, meningkatkan jumlah publikasi, menarik mahasiswa, dan memperluas kerja sama.

Persaingan tersebut wajar. Bahkan, dalam batas tertentu, persaingan dapat mendorong institusi untuk terus memperbaiki diri.

Namun, persoalannya muncul ketika persaingan membuat kita enggan berbagi pengetahuan, sulit membangun kepercayaan, atau merasa bahwa keberhasilan institusi lain merupakan ancaman bagi institusi sendiri.

Di sinilah kita perlu mengubah cara berpikir.

Mengapa perguruan tinggi harus selalu bekerja sendiri ketika persoalan yang dihadapi sering kali sama? Mengapa penelitian harus terus berjalan secara parsial ketika kolaborasi dapat memperluas cakupan, meningkatkan kualitas, dan memperbesar dampaknya? Mengapa dosen dari berbagai perguruan tinggi tidak lebih intensif membangun publikasi bersama, mengembangkan inovasi pembelajaran, atau menyusun rekomendasi kebijakan?

Kita harus berani mengakui bahwa tidak semua perguruan tinggi memiliki sumber daya yang sama. Ada institusi yang unggul dalam riset, ada yang kuat dalam pengembangan pembelajaran, dan ada pula yang memiliki jejaring industri yang luas.

Perbedaan ini seharusnya menjadi alasan untuk berkolaborasi, bukan alasan untuk saling menjauh.

Persaingan membuat kita berusaha menjadi lebih baik. Kolaborasi memungkinkan kita menghasilkan sesuatu yang tidak mungkin dicapai sendirian.

Karena itu, AFEBSI harus menjadi jembatan yang menghubungkan keunggulan-keunggulan tersebut. Melalui kolaborasi riset, publikasi ilmiah, peningkatan kompetensi dosen, kemitraan industri, dan jejaring internasional, AFEBSI dapat membantu membangun ekosistem akademik yang lebih produktif.

Tujuannya bukan menyeragamkan semua perguruan tinggi, melainkan memperkuat keunggulan masing-masing melalui kerja sama yang saling menguntungkan.

Jangan Hanya Menghasilkan Sarjana, Ciptakan Manusia yang Relevan dengan Zaman

Tantangan berikutnya adalah relevansi pendidikan tinggi.

Kita perlu bertanya secara jujur: apakah kurikulum yang kita ajarkan benar-benar mempersiapkan mahasiswa menghadapi dunia kerja dan dunia usaha yang terus berubah? Apakah metode pembelajaran kita telah memberi ruang yang cukup bagi kreativitas, pemecahan masalah, dan pengalaman nyata? Apakah penelitian dosen telah terhubung dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan industri?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dimaksudkan untuk merendahkan capaian perguruan tinggi. Sebaliknya, pertanyaan tersebut merupakan bagian dari tanggung jawab akademik untuk terus melakukan evaluasi.

Gelar akademik tetap penting. Penguasaan teori tetap mendasar. Namun, keduanya tidak cukup apabila tidak disertai kemampuan menerapkan pengetahuan, bekerja sama, berkomunikasi, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Kecerdasan artifisial juga membawa tantangan baru. Ketika teknologi mampu membantu mengerjakan berbagai tugas analitis dan administratif, perguruan tinggi perlu memperkuat kemampuan yang tidak cukup dibangun melalui hafalan: penalaran kritis, kreativitas, integritas, empati, dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan.

Karena itu, transformasi pendidikan tinggi bukan sekadar memindahkan materi kuliah ke platform digital atau menggunakan teknologi terbaru di ruang kelas. Transformasi yang sesungguhnya terjadi ketika teknologi, kurikulum, kompetensi dosen, dan tata kelola akademik diarahkan untuk menghasilkan pembelajaran yang lebih bermakna.

FEB harus mampu melahirkan lulusan yang bukan hanya siap mencari pekerjaan, tetapi juga mampu menciptakan peluang, membangun usaha, memimpin organisasi, dan memberikan kontribusi bagi pembangunan ekonomi.

AFEBSI Harus Bergerak: Dari Kolaborasi Menuju Dampak

Untuk menjawab tantangan tersebut, AFEBSI perlu memiliki arah yang jelas. Ada empat orientasi strategis yang dapat menjadi fondasi pengembangannya: Collaborate, Transform, Connect, dan Impact.

Pertama, Collaborate. Membangun kolaborasi nasional melalui riset bersama, publikasi ilmiah, pengembangan kompetensi dosen, pertukaran pengetahuan, dan program akademik lintas perguruan tinggi.

Kedua, Transform. Mendorong transformasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis melalui inovasi pembelajaran, penguatan kompetensi digital, pemanfaatan kecerdasan artifisial secara bertanggung jawab, serta pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Ketiga, Connect. Menghubungkan perguruan tinggi dengan pemerintah, dunia usaha dan industri, asosiasi profesi, lembaga penelitian, serta mitra internasional. Perguruan tinggi tidak boleh menjadi menara yang terpisah dari realitas sosial dan ekonomi.

Keempat, Impact. Memastikan bahwa program yang dijalankan menghasilkan manfaat yang dapat diukur, baik dalam peningkatan kualitas akademik, produktivitas penelitian, kompetensi lulusan, maupun kontribusi bagi masyarakat.

Keempat orientasi tersebut tidak boleh berhenti sebagai slogan. Semuanya harus diterjemahkan menjadi program kerja, target capaian, indikator kinerja, dan evaluasi yang konsisten.

Kita perlu mengukur keberhasilan AFEBSI bukan hanya dari banyaknya kegiatan yang terselenggara, tetapi juga dari peningkatan kapasitas anggota, lahirnya kolaborasi yang produktif, terbukanya peluang kemitraan, dan dampak nyata bagi perguruan tinggi.

AFEBSI tidak cukup hanya menjadi tempat bertemunya para pimpinan akademik. AFEBSI harus menjadi ruang lahirnya gagasan, kerja sama, dan solusi.

Indonesia Emas 2045 Tidak Akan Terwujud dengan Slogan

Indonesia Emas 2045 merupakan cita-cita besar bangsa. Namun, cita-cita tersebut tidak akan terwujud hanya melalui pidato, dokumen perencanaan, atau slogan yang diulang setiap tahun.

Diperlukan sumber daya manusia yang unggul, institusi yang adaptif, riset yang produktif, inovasi yang berkelanjutan, dan kolaborasi yang nyata.

Pendidikan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam proses tersebut. Pemerintah membutuhkan dukungan pengetahuan dan riset dari perguruan tinggi. Dunia usaha membutuhkan talenta yang kompeten. Masyarakat membutuhkan inovasi yang dapat meningkatkan kesejahteraan.

Di sinilah sinergi antara pemerintah, LLDIKTI, perguruan tinggi, dan dunia usaha menjadi penting.

Perguruan tinggi harus berani keluar dari zona nyaman. Pemerintah perlu terus membangun ekosistem yang mendukung peningkatan mutu. Dunia usaha perlu membuka ruang kemitraan yang lebih luas. Sementara itu, organisasi seperti AFEBSI harus mampu mempertemukan berbagai kepentingan tersebut dalam agenda bersama yang produktif.

Kita tidak harus menunggu semua kondisi menjadi ideal untuk memulai perubahan. Kita dapat memulainya dari hal-hal konkret: satu penelitian kolaboratif, satu program peningkatan kompetensi dosen, satu kemitraan industri yang produktif, atau satu inovasi pembelajaran yang memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa.

Perubahan besar sering kali berawal dari komitmen kecil yang dilakukan secara konsisten.

Kepemimpinan Boleh Berganti, Arah Besar Harus Tetap Terjaga

Kongres I AFEBSI juga menjadi momentum untuk memperkuat tata kelola dan keberlanjutan kepemimpinan organisasi.

Dalam setiap organisasi, regenerasi merupakan bagian alamiah dari proses pertumbuhan. Kepemimpinan dapat berganti, tetapi visi, nilai, dan cita-cita bersama harus tetap menjadi fondasi.

Organisasi yang matang tidak bergantung sepenuhnya pada satu figur. Ia memiliki sistem yang kuat, budaya kerja yang sehat, tradisi dialog yang terbuka, dan mekanisme pengambilan keputusan yang berorientasi pada kepentingan bersama.

Perbedaan pandangan dalam kongres harus dipandang sebagai kekayaan demokrasi. Kompetisi gagasan merupakan hal yang wajar, tetapi persaudaraan dan kepentingan organisasi harus tetap menjadi prioritas.

Pada akhirnya, ukuran kepemimpinan bukan hanya seberapa besar kewenangan yang dimiliki, melainkan seberapa jauh kapasitas organisasi berkembang, seberapa banyak orang yang memperoleh manfaat, dan seberapa kuat fondasi yang diwariskan kepada generasi berikutnya.

Kebesaran organisasi tidak ditentukan oleh siapa yang paling lama memimpin, tetapi oleh seberapa kuat organisasi itu bertumbuh dan seberapa nyata manfaat yang ditinggalkannya.

Saatnya AFEBSI Membuktikan Diri

Kongres I AFEBSI harus menjadi titik tolak untuk membangun tradisi baru dalam pendidikan tinggi ekonomi dan bisnis Indonesia. Tradisi yang mengutamakan kolaborasi tanpa kehilangan daya saing, mendorong inovasi tanpa meninggalkan integritas akademik, dan mengejar keunggulan tanpa melupakan tanggung jawab sosial.

Kita tidak ingin AFEBSI hanya dikenang sebagai organisasi yang pernah menyelenggarakan kongres. Kita ingin AFEBSI dikenang karena kontribusinya dalam memperkuat Fakultas Ekonomi dan Bisnis, meningkatkan kapasitas dosen, menghasilkan kolaborasi yang produktif, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, pertanyaan yang harus kita jawab setelah kongres ini bukan hanya apa yang telah kita sepakati, melainkan apa yang benar-benar akan kita kerjakan.

Sebab, pada akhirnya, masa depan pendidikan tinggi tidak dibangun oleh banyaknya kata yang kita ucapkan, tetapi oleh kualitas keputusan yang kita ambil dan konsistensi tindakan yang kita lakukan.

Mari kita kuatkan kolaborasi, percepat transformasi, perluas jejaring, dan hadirkan dampak nyata bagi bangsa.

AFEBSI Bersatu, FEB Indonesia Maju, Indonesia Emas 2045 Kita Wujudkan Bersama.

Dr. Achmad Rozi , SE., MM., CPHCM
Ketua Umum DPN AFEBSI Periode 2021–2026