Di dalam bus yang melaju tenang meninggalkan Terminal Purabaya—Bungurasih—menuju Pasuruan, ritme roda di atas aspal seakan selaras dengan riuh pikiran yang menari. Di layar ponsel, deretan logo perguruan tinggi berkilat di grup percakapan para co-host Kongres I AFEBSI. Dari Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan, Untag Surabaya, Universitas Strada Indonesia, Universitas Nusa Mandiri, UBP Karawang, UNU Sidoarjo, hingga kampus-kampus dari Sumatra seperti Jambi, Riau, serta Mataram—semuanya bertautan dalam satu garis cita-cita yang sama. Jemari ini mendadak enggan diam. Ada narasi besar yang harus dirajut sore ini: tentang mengapa ratusan FEB swasta dari penjuru Nusantara antusias menyatukan langkah menuju Menara Peninsula Hotel Jakarta pada 13–15 Oktober 2026 mendatang.

Kongres perdana ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul atau seremoni akademik tahunan. Bagi pimpinan fakultas, ketua program studi, hingga para dosen yang bertolak dari daerah, forum nasional bertajuk “Penguatan Kolaborasi Nasional AFEBSI Menuju Indonesia Emas 2045 dan Daya Saing Global Berkelanjutan” ini membawa misi yang jauh lebih konkret.

Kehadiran para akademisi daerah dalam hajatan besar ini didasari oleh beberapa alasan strategis:

Akses Langsung ke Pembuat Kebijakan dan Petinggi Industri: Forum ini menghadirkan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI (Prof. Brian Yuliarto), Gubernur DKI Jakarta (Dr. Ir. Pramono Anung Wibowo), hingga pimpinan BUMN seperti Direksi PT Pertamina dan Perta Life Insurance. Kesempatan berdialog langsung dengan para pemangku kepentingan utama ini menjadi momentum langka bagi kampus daerah untuk menyuarakan aspirasi dan memahami arah regulasi secara presisi.

Oleh-Oleh Konkret Tri Dharma dan Akreditasi: Pulang dari Jakarta, para pimpinan tidak hanya membawa kenangan foto bersama, melainkan dokumen penandatanganan MoA/MoU lintas perguruan tinggi dan dunia usaha. Agenda International Conference, Pengabdian Masyarakat Nasional, hingga pemaparan langsung dari Ketua Dewan Eksekutif LAMEMBA (Prof. Dr. Ina Primiana) menjadi jawaban nyata atas kebutuhan pemenuhan Indikator Kinerja Utama (IKU) serta penguatan akreditasi prodi di daerah.

Meleburkan Sekat Geografis dan Merawat Kepercayaan Diri: Duduk sejajar antara kampus Jawa dan luar Jawa—mulai dari Surabaya, Pasuruan, Karawang, hingga Jambi dan Riau—menegaskan bahwa tidak ada dikotomi dalam mutu pendidikan bisnis. AFEBSI hadir sebagai rumah bersama yang merangkul dan memberi panggung setara bagi seluruh FEB swasta untuk berkontribusi pada skala nasional.

Namun, sejatinya substansi paling krusial dari gelaran kongres ini justru baru dimulai ketika acara resmi usai. Kepulangan para utusan—baik Dekan, Kaprodi, maupun Dosen—kembali ke benteng akademiknya masing-masing di daerah bukanlah akhir perjalanan, melainkan fajar baru bagi pergerakan internal institusi. Sekembalinya mereka dari Menara Peninsula, ada nyala api motivasi dan “bahan bakar” baru yang siap diinjeksikan ke dalam tubuh organisasi kampus.

Dampak eksponensial bagi pengembangan internal organisasi kampus daerah setelah kongres ini meliputi:

Transformasi Energi dan Mindset Kebangsaan: Pengalaman berinteraksi langsung dengan ratusan pimpinan FEB se-Indonesia membawa pulang lanskap berpikir yang lebih luas. Utusan yang kembali tidak lagi memandang tata kelola kampus secara kedaerahan atau inward-looking, melainkan bergegas membenahi mutu internal dengan standar tata kelola nasional bahkan global.

Resonansi Semangat untuk Pegiat Organisasi Mahasiswa: Kehadiran para pimpinan kampus di arena nasional memberi teladan (role model) yang sangat nyata bagi para pegiat organisasi mahasiswa, baik intra (BEM, Hima) maupun ekstra kampus. Ketika mahasiswa melihat para pejabat strukturalnya melek jejaring, adaptif, dan aktif berorganisasi di tingkat nasional, muncul lecutan semangat dan sense of pride di benak mereka. Mahasiswa menjadi terekspos pada budaya berorganisasi yang sehat, berwawasan luas, dan berorientasi pada kolaborasi.

Penguatan Branding dan Daya Tarik Kampus di Mata Publik: Langkah aktif pimpinan kampus tampil di panggung nasional secara langsung memperkuat institutional branding. Kampus daerah tidak lagi dipersepsikan sebagai lembaga yang pasif, melainkan kampus yang bergerak cepat, produktif, dan memiliki jaringan luas. Dampak tidak langsung yang sangat signifikan ini menjadi magnet kuat bagi para lulusan SMA/SMK dan masyarakat sekitar, menumbuhkan keyakinan bahwa menuntut ilmu di kampus daerah memberikan akses dan kualitas yang tidak kalah bersaing.

Akselerasi Penguatan Kelembagaan dan Kurikulum: Bekal dari sesi Seminar Nasional dan pemaparan LAMEMBA menjadi peta jalan (roadmap) konkret untuk mengevaluasi kurikulum, efisiensi operasional prodi, serta strategi pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU). Gagasan-gagasan ini siap diterjemahkan ke dalam kebijakan internal yang mempercepat peningkatan status akreditasi.

Jika ditarik ke dalam bingkai pemikiran manajemen modern, fenomena berduyun-duyunnya para akademisi daerah ke Kongres I AFEBSI menemukan pembenaran teoretisnya pada Teori Modal Sosial (Social Capital Theory) yang dikembangkan oleh Nahapiet & Ghoshal (1998). Teori ini menegaskan bahwa keunggulan berkelanjutan suatu organisasi tidak lagi semata-mata bertumpu pada modal finansial atau fisik, melainkan pada kejelian organisasi dalam membangun modal sosial—yang mencakup dimensi struktural (jejaring hubungan), dimensi relasional (kepercayaan dan reputasi), serta dimensi kognitif (pemahaman dan pemaknaan visi bersama).

Langkah para Rektor, Dekan, Kaprodi, dan Dosen yang hadir sebagai co-host maupun peserta sejatinya adalah manifestasi nyata dari akumulasi social capital tersebut. Ketika kampus daerah aktif merajut jejaring struktural di panggung nasional, kepercayaan publik tumbuh, iklim berorganisasi mahasiswa hidup, dan reputasi institusi ter-eskalasi secara alamiah.

Bus terus melaju mendekati tujuan di Pasuruan, namun gagasan telah tuntas tertuang. Kongres I AFEBSI di Jakarta nanti adalah bukti nyata bahwa dari sudut-sudut kampus daerah, semangat untuk merajut kemajuan pendidikan ekonomi Indonesia tidak pernah padam. Sepulang dari sana, para utusan akan melangkah kembali ke kampus masing-masing bukan hanya sebagai peserta kongres, melainkan sebagai agen perubahan yang membawa modal sosial berharga—siap membakar semangat pembaruan, menginspirasi mahasiswa, dan mengibarkan panji-panji kemajuan perguruan tinggi di daerah.

Dr. Agus Andi Subroto STP., M.M.
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia

Warkop Alun-alun Bangil, 07 Oktober 2026