Malam ini, di dalam gerbong Kereta Doho yang melaju pelan dari Pasuruan menuju Surabaya, sebuah lagu membuat perjalanan terasa sedikit berbeda.

Bukan tembang populer. Bukan pula melodi nostalgia.

Yang terdengar pelan di kepala adalah bait-bait Mars AFEBSI: “Kami insan dosen FEB Indonesia, bersatu dalam satu cita, membangun ilmu, karya, dan bangsa, menuju Indonesia berjaya.”

Entah mengapa, mendengarnya malam ini menghadirkan sebuah krenteg—sebuah dorongan batin yang mengusik renungan.

Mungkin karena AFEBSI kini sedang berada pada tikungan jalan yang penting. Kongres I AFEBSI yang akan digelar di Jakarta pada 13–15 Oktober 2026 mendatang bukan sekadar agenda temu kangen para pengajar ilmu ekonomi dan bisnis dari berbagai penjuru tanah air. Ia adalah ujian kepatuhan: sejauh mana sebuah organisasi akademik mampu menerjemahkan cita-cita di atas kertas menjadi denyut gerakan bersama.

Sebab, pada hakikatnya, sebuah mars tidak pernah diciptakan sekadar untuk dihafal. Ia adalah identitas yang disuarakan bersama, sekaligus janji sunyi yang mesti ditunaikan bersama.

Dalam konteks itu, apresiasi tentu layak dialamatkan kepada Bapak Arif Murti R., Ph.D.—Ketua DPD AFEBSI DKI Jakarta sekaligus motor di balik Organizing Committee Kongres I—yang melahirkan lirik dan gita tersebut. Melalui karya itu, ia seperti memberi suara pada kerinduan kolektif yang selama ini terpendam di ruang-ruang kuliah dan meja-meja riset.

Namun, sebuah mars selalu menuntut pembuktian. Di sinilah letak daya tarik Kongres I AFEBSI.

Mengusung tema “Penguatan Kolaborasi Nasional AFEBSI Menuju Indonesia Emas 2045 dan Daya Saing Global Berkelanjutan,” kongres ini memuat lima kata kunci: konsolidasi, kolaborasi, transformasi, akselerasi, dan berkembang. Kelimanya bukan sekadar jargon penghias pamplet, melainkan kata kerja yang menuntut keringat.

Rangkaian agendanya pun menyiratkan keseriusan itu. Dari pemilihan nakhoda baru DPN AFEBSI periode 2026–2031, Seminar Nasional Pendidikan Tinggi, konferensi internasional, hingga pengabdian masyarakat serentak dan penandatanganan kerja sama lintas sektor. Kongres ini dirancang melampaui urusan prosedural-organisatoris; ia adalah ikhtiar merajut ekosistem.

Dalam sosiologi, kekuatan sebuah perhimpunan diukur dari social capital—seberapa baik anggotanya merajut kepercayaan, jejaring, dan saling tampung untuk tujuan bersama. AFEBSI memiliki modal itu secara paripurna.

Para dosen membawa kedalaman ilmu. Periset menawarkan temuan. Kampus menyediakan ekosistem. Para praktisi membenturkan teori dengan realitas pasar, sementara negara merumuskan kebijakan. Ketika elemen-elemen ini berhenti berjalan sendiri-sendiri dan mulai berirama dalam satu orkestrasi, organisasi tidak lagi sekadar menjadi ruang daftar hadir. Ia berubah menjadi pabrik gagasan.

Tentu, di balik kemegahan sebuah panggung kongres, selalu ada kerja-kerja senyap yang jarang tersorot lampu utama.

Maka, penghormatan yang sama patut diberikan kepada jajaran Steering Committee (SC) dan Organizing Committee (OC). Flyer yang estetis hanyalah etalase. Di balik layar, ada ribuan pesan koordinasi yang belum dibalas, kompromi-kompromi alot, tenggat waktu yang mengejar, hingga urusan teknis melelahkan yang tidak pernah masuk dalam risalah rapat.

Di sanalah frasa “bersatu maju, berkarya nyata” menemukan wujud aslinya. SC menjaga kompas strategis, sementara OC menerjemahkannya di atas lumpur realitas lapangan. Keduanya menuntut kelapangan dada untuk menaruh kepentingan bersama di atas ego personal.

Bukankah itu pula pesan yang kita senandungkan dalam bait mars: “Satukan tekad, satukan langkah, majukan pendidikan Indonesia”?

Sebab, integritas seorang akademisi tidak hanya diuji di depan kelas atau melalui tebalnya jurnal terindeks Scopus. Integritas yang sejati juga diuji dalam cara sebuah organisasi dikelola: bagaimana perbedaan disikapi, bagaimana amanah dijaga, dan bagaimana kerendahan hati dirawat di tengah perbedaan pandangan.

Itulah mengapa Kongres I AFEBSI bukan sekadar perihal siapa yang akan memegang kemudi kepemimpinan berikutnya. Jauh lebih penting dari itu, kongres adalah tentang ke mana arah kapal besar ini akan dibawa berlayar setelah nakhoda baru terpilih.

Malam semakin larut. Kereta Doho terus membelah kegelapan menuju Surabaya, menyisakan derit roda besi yang monoton di atas rel.

Namun bait-bait mars itu tetap tinggal, meninggalkan pertanyaan reflektif:
Bahwa bersatu bukan sekadar kerumunan.
Bahwa kolaborasi bukan sekadar tukar kartu nama di ujung seminar.
Bahwa riset bukan sekadar mengejar angka akreditasi.
Dan bahwa integritas bukan sekadar baris kalimat di dalam lembar mars.

Pada akhirnya, mars memang diciptakan untuk dinyanyikan dengan suara lantang. Tetapi ia juga menuntut untuk dibuktikan melalui rekam jejak tindakan.

Dari jendela gerbong kereta malam ini, sebuah apresiasi sederhana mengalir untuk karya yang menggugah, serta hormat yang tulus bagi para penggerak di balik layar Kongres I AFEBSI.

Semoga langkah ini tetap berpijak pada bumi, terus berkarya nyata, dan memberi arti lapang bagi masa depan peradaban bangsa.

Dr. Agus Andi Subroto STP., M.M.
Dekan Fakultas Hukum dan Bisnis ITB Yadika Pasuruan
Ketua DPD AFEBSI Jatim
Wasekjen IDEI Insan Doktor Ekonomi Indonesia

Gerbong 3 Kereta Doho, Otw Pasuruan-Surabaya, 06 Oktober 2026